RSS

Tag Archives: hukum membaca shadaqAllahul ‘adzim

SHADAQALLAHUL ‘ADZIM – Ucapan yang di Bid’ah kan

Beberapa waktu lalu ada info tentang membaca Shadaqallahu al Adziem setiap menutup bacaan Al Qur’an merupakan hal baru yang tidak dianjurkan bahkan harus ditinggalkan, karena hal tsb merupakan bid’ah. Bid’ah menurut paham kelompok ini tidak ada arti lain kecuali sesat dan tempatnya di neraka. Wuihh.. syeuraamm… Hal baru = bid’ah = sesat = neraka. Itulah pola berpikir yang dikembangkan dan disebarluaskan, termasuk membaca Shadaqallahu al Adziem. Sempit dan menyesatkan!

Berikut ada artikel menarik tentang hal ini dan bantahannya dari seorang ustadz di eramuslim.com

Assalamu’alaikum

.

Benar, ucapan ‘Shadaqallahul ‘azim’ setelah membaca Al Qur’an itu bid’ah. Sebagaimana dikatakan oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat di bukunya Risalah Bid’ah. (Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Yayasan At Tauhid, Cet. I, 2001 M, hal. 85). Bid’ah artinya amalan tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan bukan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Karena tidak diajarkan oleh Rasul, tetapi dibuat oleh manusia yang mengatasnamakan Rasulullah. Patutlah Anda tanyakan kepada orang orang yang membaca ‘shadaqallahul ‘aziim’ setelah membaca Al Qur’an, apa dalil mereka ?

Kalau tidak ada dalilnya, berarti kembali ke asal yaitu amalan tersebut tidak dilakukan…

Wassalamu’alaikum

Berikut bantahannya

.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

.

Memang kita ini hidup di tengah masyarakat muslim yang sangat heterogen. Baik dari sisi aqidah maupun dari sudut pandang syariat.

Ada begitu banyak paham yang berkembang,

mulai dari yang paling tasamuh (memudahkan) hingga yang paling mutasyaddid (ketat).

Dan ada juga yang punya kecenderungan wasathiyah (pertengahan).

Semua itu memang tidak bisa kita hindari, apalagi diperangi. Karena masing-masing kecenderungan itu lahir dari berbagai latar belakang yang berbeda. Bahkan filosofi metode istimbath hukum juga ikut berpengaruh, selain juga mazhab dan pola ushul fiqih.

Perbedaan Hukum Membaca Lafadz Shadaqallahul ‘Adzhim

Sebagian kalangan ada yang memandang bahwa bila setelah membaca Al-Quran Al-Kariem kita mengucapkan lafadz Shadaqallahul “Adzhiem, hukumnya bid’ah.

Sebab dalam pandangan mereka, hal seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Buat mereka, karena tidak ada contoh dari beliau, maka hukumnya menjadi terlarang alias bid’ah.

Dan begitu seterusnya kaidah yang mereka pakai dalam semua bentuk dan praktek ibadah. Pokoknya, apa yang tidak ada contohnya secara langsung dari Rasulullah SAW, bukan sekedar tidak dikerjakan, tapi hukumnya malah terlarang dan layak mendapat gelar bid’ah

Misalnya

Mereka mengatakan bahwa bersalaman setelah shalat pun juga bid’ah. Karena tidak ada hadits yang secara spesifik menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersalaman setelah shalat berjamaah.

Termasuk menambahkan jumlah rakaat pada shalat malam, juga bid’ah. Karena dalam pandangan mereka, Rasulullah SAW tidak pernah menambahkan jumlah rakaat shalat malam lebih dari 11 rakaat. Maka bila ada orang yang menambahkan, dia dianggap telah melanggar sunnah Rasulullah SAW dan jadilah dia ahli bid’ah.

Karena shalat malam yang 11 rakaat itu dianggapnya seperti ketentuan shalat wajib yang 5 waktu, di mana jumlah rakaatnya sudah ditetapkan. Tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Harus tepat seperti itu, atau kalau tidak, maka bid’ah hukumnya.

.

Gaya pendekatan fiqih semacam ini harus kita akui, memang ada dan beredar di tengah masyarakat. Tentu saja sebagai sebuah pola pendekatan fiqih, kita perlu menghormatinya, tanpa harus panik dan kebakaran jenggot dengan kesimpulan-kesimpulannya yang terkesan agak kurang seperti yang biasanya kita temui di negeri kita.

Pendekatan Fiqih Yang Lain

Di sisi lain, ada kalangan lain yang tidak memandang bahwa hal itu bid’ah. Karena dalam pandangan mereka, meski tidak ada riwayat yang secara khusus menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan lafadz itu selepas baca Quran, namun tetap ada dalil yang bersifat umum tentang anjuran mengucapkan lafadz itu.

Misalnya, ayat Quran berikut ini:

.

قُلْ صَدَقَ اللهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا-آل عمران

Katakanlah, “Shadaqallah” dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus

(QS. Ali Imran: 95)

.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولَهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ

Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

(QS. Al-Ahzab: 22)

.

Ayat ayat ini tegas memerintahkan kita untuk mengucapkan lafadz itu, sehingga menurut pendapat yang kedua, tidak pada tempatnya untuk melarang para pembaca Al-Quran untuk mengucapkannya.

Di antara para ulama yang mendukung pengucapan lafadz shadaqallahul ‘adzhiem selepas membaca ayat Al-Quran adalah Al-Imam Al-Qurthubi. Beliau menuliskan dalam kitab tafsir fenomenalnya, Al-Jami’ li Ahkamil Quran bahwa Al-Imam At-Tirmizy mengatakan tentang adab membaca Al-Quran. Salah satunya adalah pada saat selesai membaca Al-Quran, dianjurkan untuk mengucapakan lafadz shadaqallahul a’dzhim atau lafadz lainnya yang semakna.

Pada jilid 1 halaman 27 disebutkan bahwa di antara bentuk penghormatan kita kepada Al-Quran adalah membenarkan firman Allah SWT dan mempersaksikan kebenaranya dari Rasulullah SAW.

Misalnya ucapan berikut ini:

صدق الله العظيم وبلَّغ رسوله الكريم

shaqadallahul ‘adzhim wa ballagha rasuluhul karim,

artinya

Maha benar Allah yang Maha Agung dan Rasul-Nya yang mulia telah menyampaikannya.

.

Contoh lafadz lainnya adalah

صدقتَ ربنا وَبَلَّغَتْ رُسُلُك ونحن على ذلك من الشاهدين. اللهم اجعلنا من شهداء الحق القائمين بالقِسْطِ

Maha benar Engkau wahai Tuhan kami dan rasul-Mu telah menyampaikannya, dan kami semua telah menjadi saksi atas hal itu. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai saksi yang hak yang menegakkan keadilan.

.

Hukum Membaca Shadaqallahul Adzhim di dalam Shalat

Kalau ada pendapat yang tidak membid’ahkan bacaan Shadaqallahul Adzhim di luar shalat, maka bagaimana hukumnya bila lafadz itu diucapkan di dalam shalat?

Dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah, terbitan Kementrian Mesir, telah disebutkan pendapat para ulama mazhab.

.

1. Al-Hanafiyah

Mazhab ini mengatakan apabila seorang shalat dan mengucapkan tasbih seperti shadaqallahul ‘adzhim setelah selesai dari membaca Quran, maka shalatnya tidak batal.

Namun mereka mensyaratkan bahwa hal itu dilakukan dengan niat bahwa tujuannya sekedar memuji, dzikir atau tilawah.

2. Mazhab Asy-Syafi’iyah

Mazhab ini sama dengan mazhab Al-Hanafiyah, bahwa siapa pun orang yang shalat lalu mengucapkan lafadz shadaqallahul ‘adzhim, tidak batal shalatnya. Bahkan tanpa mensyaratkan apa pun.

.

Kesimpulan:

Kalau kita melihat dari pendapat-pendapat yang ada di atas, jelas sekali bahwa ada kalangan yang membid’ahkan dan ada juga yang tidak membid’ahkan. Bahkan termasuk para ulama mazhab sekalipun, mereka tidak mengatakan bahwa shalat seseorang menjadi batal lantaran di dalam shalat membaca lafadz semacam itu.

Maka setidaknya kita jadi tahu, bahwa memang masalah ini masalah khilafiyah umat. Tidak ada nash yang secara tegas melarangnya tapi juga tidak ada nash yang secara khusus memerintahkannya. Maka tidak tepat rasanya bila kita menjadi saling bermusuhan untuk urusan yang tidak ada nash yang tegas dan khusus.

Barangkali akan jauh lebih bermanfaat bila kita saling bertoleransi dengan sesama muslim, ketimbang kita harus menyakiti dan saling menjelekkan dengan saudara kita sendiri.

 

.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

.


Ahmad Sarwat, Lc

.

لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

“Umat ini tidak akan bersepakat diatas Kesesatan.”

(HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

 

.

FATWA NASHIRUDDIN ALBANI

.

Perkataan al-Albani dalam kata pengantar cetakan pertama kitabnya

Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah

yang tercantum di halaman 16, cetakan ke-1 tahun 1390 H

.

انصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه النواجذ, والا تركه

 Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya,

untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut,

kecuali setelah benar-benar menelitinya.

Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut,

apabila hal tersebut (komentar dariku) ada,

maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya.

Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut

 

 
Leave a comment

Posted by on October 11, 2012 in HUKUM-HUKUM ISLAM

 

Tags: